Bagaimana Cara Pengelolaan Limbah B3 dengan 5 Metode?
Dalam pengelolaan limbah B3 terdapat beberapa cara yang dilakukan untuk membiaskan zat-zat berbahaya dari limbah tersebut. Hal ini bertujuan agar saat limbah dibuang tidak mencemari lingkungan, karena sudah terlepas dari bahan berbahaya dan beracun.
Untuk mengelola limbah B3 harus dilakukan oleh professional di bidang limbah B3, karena tidak sembarang orang bisa menangani limbah ini. Para petugas limbah juga harus mengikuti serangkaian pelatihan untuk membekali dirinya dengan keahlian yang dibutuhkan.
Contoh profesi bidang limbah seperti manajer limbah B3 dan operator limbah yang sudah tersertifikasi BNSP. Sertifikat BNSP juga memiliki banyak fungsi, selain sebagai bukti nyata pengakuan nasional masih banyak lagi manfaat lainnya.
5 Metode Cara Pengelolaan Limbah B3
Menangani limbah B3 harus dilakukan dengan aman dan tepat, hal ini bertujuan untuk mengurangi risiko yang dapat ditimbulkan dari limbah tersebut.
Berikut ini beberapa metode yang biasa digunakan dalam mengolah limbah B3, diantaranya:
1. Insinerasi
Metode insinerasi atau pembakaran merupakan proses yang dilakukan dengan tujuan untuk mengecilkan ukuran dari limbah B3. Metode ini umum digunakan pada sektor layanan medis dan limbah rumah tangga.
Proses pembakaran limbah B3 ini harus dilakukan dan di awasi secara ketat oleh petugas yang berwenang. Hal ini dilakukan agar zat limbah B3 yang dibakar benar-benar hancur dan tidak mencemari area lain.
2. Destruksi Termal
Sama hal nya dengan metode insinerasi, metode ini juga menggunakan suhu yang tinggi dalam prosesnya. Namun, limbah yang diolah atau dimusnahkan secara termal adalah limbah dengan tingkat toksifikasinya tinggi dan sangat berbahaya.
Jika limbah B3 ini tidak ditangani dengan baik, maka akan menjadi ancaman bagi makhluk hidup. Pengolahan limbah adalah wajib bagi sektor-sektor yang menghasilkan limbah B3, terutama sektor industri dan rumah sakit.
3. Bioremediasi
Pengolahan secara bioremediasi adalah proses mengolah limbah dengan memanfaatkan bakteri atau mikroorganisme untuk mengurai limbah B3. Enzim dari bakteri tersebut berfungsi untuk mengurai zat yang ada pada limbah B3.
Proses dalam metode bioremediasi ini dinilai lebih ramah lingkungan dan tidak menghasilkan polusi kimia. Namun, terdapat kekurangan dari proses ini yaitu membutuhkan waktu yang relatif lama.
4. Stabilisasi
Metode stabilisasi adalah suatu proses yang mencampurkan zat kimia dengan limbah B3. Hal ini bertujuan untuk meminimalisir pergerakan limbah B3 agar tidak mencemari area lainnya.
Umumnya metode ini digunakan pada pengolahan limbah B3 untuk memproduksi limbah cair. Proses pengolahan ini mengikat seluruh bagian limbah B3 yang toksik dan ditambahkan media pengikat atau pengubah.
5. Solidifikasi
Pengolahan limbah B3 dengan metode solidifikasi ini menggunakan zat aditif. Metode ini kurang lebih sama seperti stabilisasi, serta memiliki tujuan untuk mereduksi tingkat racun dan mobilitas limbah B3.
Adapun bahan baku yang biasa digunakan untuk proses stabilisasi dan solidifikasi biasanya kapur, semen dan bahan termoplastik.
Baca Juga : Fungsi Sertifikasi BNSP bagi Praktisi Lingkungan
Saat ini Kementerian Lingkungan Hidup sedang menggalakkan program kelestarian lingkungan. Bekerja sama dengan Badan Nasional Sertifikasi Profesi dan sektor-sektor industri untuk melatih personel di bidang lingkungan untuk membekali mereka terkait kompetensi yang dibutuhkan.
PT Integra System Indonesia siap membantu anda untuk mengadakan pelatihan khusus penanganan limbah. Pelatihan limbah B3 ini bertujuan untuk memberikan kompetensi dan keahlian di bidang pengolahan limbah.



